
Banda Aceh – Universitas Syiah Kuala (USK) kembali menegaskan komitmennya dalam merespons bencana banjir yang melanda sejumlah wilayah di Aceh.
Selama tiga hari, Kamis hingga Sabtu, 25–27 Desember 2025, Tim Satuan Tugas (Satgas) USK melakukan monitoring dan evaluasi (monev) sekaligus pendistribusian logistik ke wilayah-wilayah terdampak banjir dan banjir bandang di Aceh Utara, Aceh Timur, dan Aceh Tamiang.
Kegiatan tersebut dipimpin langsung oleh Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Kewirausahaan USK, Prof. Mustanir, M.Sc, didampingi Prof. Dr. Muksin, S.Si., M.Si., M.Phil, selaku Coordinator of Geohazards Mitigation Division Tsunami and Disaster Mitigation Research Center (TDMRC) USK, serta Prof. Dr. Ir. Nasrul, S.T., M.T, Wakil Ketua Bidang Penelitian Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) USK. Turut serta dalam rombongan tersebut Maimun, Wakil Dekan bidang Kemahasiswaan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) USK.
“Satgas USK responsif dan sigap. Kami masih terus melanjutkan proses pemulihan Aceh pascabanjir, tidak hanya pada fase tanggap darurat, tetapi juga memastikan layanan kemanusiaan berjalan dengan baik di lapangan,” ujar Prof. Mustanir saat ditemui di sela-sela kunjungan lapangan, Jumat 26 Desember 2025.

Tim Satgas USK melakukan monitoring dan evaluasi terhadap sejumlah dapur umum yang dibuka dan dikelola oleh USK di beberapa kabupaten terdampak.
Dapur umum tersebut menjadi salah satu tulang punggung pelayanan kebutuhan dasar masyarakat, khususnya penyediaan makanan siap saji bagi warga yang masih berada di pengungsian maupun yang mulai kembali ke rumah masing-masing.
Selain dapur umum, tim juga melakukan monev terhadap posko-posko USK yang beroperasi di Kabupaten Aceh Utara, Aceh Timur, dan Aceh Tamiang.
Evaluasi dilakukan untuk memastikan efektivitas layanan, kesiapan relawan, ketersediaan logistik, serta koordinasi dengan pemerintah daerah dan unsur kebencanaan setempat.
Prof Muksin menjelaskan, aspek evaluasi ini penting agar respons kemanusiaan tidak hanya bersifat cepat, tetapi juga tepat sasaran dan berkelanjutan.
“Pendekatan berbasis data dan mitigasi risiko harus tetap dikedepankan, terutama di wilayah yang rawan bencana hidrometeorologi. Evaluasi ini menjadi dasar perbaikan respons ke depan,” ujarnya.
Distribusi Logistik
Selain melakukan evaluasi, tim Satgas USK juga secara langsung membawa dan mendistribusikan bantuan logistik kepada masyarakat terdampak banjir di Aceh Utara dan Aceh Timur.
Bantuan tersebut difokuskan pada kebutuhan mendesak masyarakat pascabanjir, termasuk bahan pangan dan kebutuhan dasar lainnya.
Prof Nasrul menegaskan bahwa keterlibatan LPPM USK dalam kegiatan ini merupakan bagian dari mandat pengabdian kepada masyarakat.
“Perguruan tinggi tidak boleh berhenti pada kajian akademik. Dalam situasi bencana, kampus harus hadir langsung di tengah masyarakat, membawa solusi dan bantuan nyata,” katanya.
Sementara Prof. Mustanir mengatakan, USK tidak memandang respons bencana sebagai kegiatan sesaat.
Menurutnya, pemulihan pascabanjir membutuhkan kerja jangka menengah dan panjang, termasuk pendampingan masyarakat, penguatan kapasitas lokal, serta dukungan berbasis riset.
“USK akan terus hadir bersama masyarakat Aceh. Kami ingin memastikan bahwa proses pemulihan berjalan secara bermartabat, berkelanjutan, dan berbasis ilmu pengetahuan,” katanya.
Maimun menambahkan, kegiatan Satgas USK menjadi ruang pembelajaran nyata bagi mahasiswa tentang solidaritas sosial, kepemimpinan, dan empati di tengah krisis.
“Mahasiswa tidak hanya belajar di ruang kelas. Melalui keterlibatan dalam respons bencana, mereka belajar langsung tentang kemanusiaan, kerja kolaboratif, dan pengabdian,” ujar Maimun.
Comments are closed